Kenapa Aku Mendengar Suara di Telinga?
Pernah tiba-tiba mendengar suara denging di telinga? Meskipun sunyi senyap, suara itu terus berdengung — itulah tinnitus. Aku mengalaminya beberapa tahun lalu. Awalnya hanya terasa di malam yang tenang, tapi lama-lama mengganggu di siang hari juga. Aku ke rumah sakit, diperiksa, tapi tidak ditemukan penyebab pasti. Pengalaman itu mengajarkanku bahwa tinnitus bukan sekadar masalah telinga — itu sinyal dari tubuhmu.
Penyebab paling umum tinnitus adalah suara bising. Orang yang bekerja di lingkungan bising atau terus-menerus mendengarkan musik dengan headphone lebih berisiko merusak telinga dalam dan mengalami tinnitus. Seorang temanku bekerja di pabrik selama lebih dari sepuluh tahun, dan pendengarannya memburuk seiring tinnitus. Suara bising tidak hanya melelahkan telinga — tapi juga merusak sel rambut di koklea secara permanen. Setelah rusak, sel-sel itu tidak bisa regenerasi, jadi pencegahan adalah kuncinya.
Penyakit Ménière, Tuli Mendadak, Neuroma Akustik… Juga Bisa Jadi Penyebab
Tinnitus juga bisa menjadi gejala dari berbagai kondisi telinga. Penyakit Ménière sering disertai vertigo dan tinnitus, sementara tuli mendadak menyebabkan penurunan pendengaran cepat disertai tinnitus. Bahkan tumor jinak seperti neuroma akustik bisa memicu tinnitus. Aku pernah mengenal pasien yang mendengar denging di satu telinga selama berbulan-bulan dan kemudian diketahui itu neuroma akustik. Untungnya, terdeteksi dini dan diangkat melalui operasi, tapi ini menunjukkan tinnitus bukan sekadar gejala ringan.
Obat-obatan juga bisa menjadi penyebab. Obat ototoksik seperti beberapa pereda nyeri (misalnya aspirin), antibiotik, dan obat kemoterapi dapat merusak telinga dalam dan menyebabkan tinnitus. Jika tinnitus muncul setelah minum obat baru, pertimbangkan efek sampingnya. Sebagai dokter pengobatan Korea, aku selalu memeriksa riwayat obat pasien. Seorang pasien mengalami tinnitus setelah berganti obat tekanan darah — dan ya, itu penyebabnya.
Masalah Kesehatan Lain di Luar Telinga Juga Bisa Menyebabkan Tinnitus
Kondisi seperti tekanan darah tinggi, masalah leher, dan diabetes juga bisa menyebabkan tinnitus. Misalnya, herniasi diskus di leher dapat menekan saraf yang terhubung ke telinga, mengganggu aliran darah, dan menyebabkan tinnitus. Aku merawat pasien yang bekerja di depan komputer seharian dengan leher kaku — tinnitusnya berasal dari masalah leher. Setelah mengobati lehernya, dengingnya hampir hilang. Tinnitus bukan penyakit itu sendiri; ini adalah tanda peringatan ketidakseimbangan dalam tubuhmu.
Tinnitus Hanya Gejala — Temukan Akar Penyebabnya
Kuncinya bukan menghilangkan suara, tapi mencari tahu mengapa suara itu ada. Lakukan tes pendengaran, MRI, dan periksa tekanan darah, gula darah, serta tulang belakangmu. Dalam pengalamanku, kebanyakan orang dengan tinnitus juga memiliki stres tinggi dan gaya hidup tidak teratur. Tinnitusku sendiri kambuh saat aku kurang tidur dan terlalu banyak bekerja. Setelah aku mengubah kebiasaan dan mengelola stres, dengingnya berkurang secara signifikan.
Jika tinnitus berlanjut, jangan abaikan. Mungkin telingamu mengirim sinyal bahaya. Deteksi dini dan mengobati akar penyebab sangat penting. Jangan hanya menyalahkan telinga — lihat seluruh tubuhmu.