Jantungmu tiba-tiba berdebar kencang atau tidak beraturan? Mungkin bukan hanya karena gugup. Faktanya, fibrilasi atrium mempengaruhi hingga 10% populasi lansia. Tapi tahukah kamu penyebabnya lebih beragam dari yang kamu kira?
Kenapa Fibrilasi Atrium Terjadi?
Fibrilasi atrium adalah salah satu aritmia paling umum dalam praktik klinis, dan kejadiannya meningkat seiring usia. Terutama pada mereka yang berusia di atas 80 tahun, angkanya mendekati 10%. Penuaan sendiri mempengaruhi sistem kelistrikan jantung, dan jika dikombinasikan dengan berbagai penyakit, risikonya melonjak drastis.
Penyebab paling umum adalah hipertensi. Tekanan darah tinggi yang berkepanjangan membebani jantung, terutama atrium kiri, menyebabkan perubahan struktural yang memicu fibrilasi atrium. Tahun lalu, ayahku didiagnosis fibrilasi atrium. Awalnya kupikir dia hanya kelelahan, tapi tes menunjukkan hipertensi sebagai penyebabnya. Setelah tekanan darahnya terkontrol, gejalanya membaik signifikan. Studi menunjukkan pasien hipertensi memiliki risiko 1,5 kali lebih tinggi terkena fibrilasi atrium.
Hubungan dengan Berbagai Penyakit Jantung
Selain hipertensi, penyakit arteri koroner, kardiomiopati, dan penyakit jantung rematik semuanya bisa menyebabkan fibrilasi atrium. Ketika atrium membesar, bentuk dan struktur jantung berubah, membuat sinyal listrik abnormal lebih mungkin terjadi. Menurut sebuah studi, 30-40% pasien gagal jantung juga menderita fibrilasi atrium. Penyakit jantung saling terkait erat, jadi jika satu masalah ditemukan, yang lain harus diperiksa.
Penyebab Non-Jantung
Penyebab fibrilasi atrium tidak terbatas pada jantung. Hipertiroidisme adalah penyebab yang sangat umum. Kelebihan hormon tiroid mempercepat dan membuat detak jantung tidak teratur, menyebabkan fibrilasi atrium. Dilaporkan bahwa 10-15% pasien hipertiroid mengembangkan fibrilasi atrium. Anemia juga bisa menjadi penyebab. Dengan anemia, jantung mendapat oksigen tidak mencukupi, membuat aritmia lebih mungkin terjadi. Penyakit paru kronis serupa; penurunan fungsi paru menambah beban pada jantung, meningkatkan risiko fibrilasi atrium.
Secara klinis, penyakit dari sistem lain seperti penyakit paru juga meningkatkan angka fibrilasi atrium. Oleh karena itu, jika fibrilasi atrium ditemukan pada EKG, perawatan medis aktif sangat penting. Ini bukan hanya tentang meredakan gejala; menemukan dan mengobati akar penyebab adalah kunci untuk mencegah kekambuhan. Melalui analisis data klinis yang komprehensif, tes tambahan seperti fungsi tiroid, fungsi paru, dan tes darah harus dilakukan jika perlu untuk mengidentifikasi penyebab pastinya.
Fibrilasi atrium bukan hanya aritmia sederhana. Ini meningkatkan risiko stroke lima kali lipat, memperburuk gagal jantung, dan secara signifikan menurunkan kualitas hidup. Namun, jika penyebabnya diidentifikasi dan diobati dengan tepat, ini adalah kondisi yang bisa dikelola. Dengarkan sinyal yang dikirim jantungmu, dan jika perlu, segera kunjungi rumah sakit.